Terima Kasih Telah Memberi Kenangan Ketika Hujan Turun


Aku tahu bulan-bulan ini hujan sering membasahi bumi menutup mentari yang biasanya tersenyum indah dengan binar hangatnya, bulan-bulan penuh tetesan hujan untuk menghidupkan gairah tanah agar senantiasa berguna untuk insan yang sedang berusaha mencari rezeki halalnya, pematang sawah yang mulai basah, embun pagi yang mulai membuat pola cermin seolah menandakan akan ada sebuah kisah baru di musim ini.

Waktu memang sulit kita buat sebuah drama yang bisa kita jadikan irama yang selaras dengan nada-nada merdu yang tercipta dalam sebuah karya, hujan masih tetap saja mengguyur kota hingga aku terjebak dalam sebuah ruang hampa tanpa tawa dan canda bahagia, hingga sebuah sorot mata penuh makna menatap tepat dihadapanku hingga terpana.


Perlahan kita mulai bercengkrama membahas hujan yang sebenarnya sudah biasa, aku menjawab karena dia bertanya, aku tertawa karena dia mulai membuatku bahagia, sorot matnya tak membuatku ragu kalau dia bukan seorang pendusta, hingga waktu mulai habis dan minuman yang aku pesan pun tak lagi ada.

Aku selalu rindu dia, berharap akan datang lagi untuk yang kedua dengan momentum pas saat hujan mulai menjelma, aku tengok dengan penuh ragu berharap dia memberiku gugup dalam kata, tak satupun harapanku yang nyata hingga hujan benar-benar reda, aku cuma bisa mengucap terima kasih untuk saat antara kita berdua yang ditemani hujan.

[Ngopi Doeloe, 13 Februari 2014]

Bagikan

Jangan lewatkan

Terima Kasih Telah Memberi Kenangan Ketika Hujan Turun
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.